cium tangan : antara kekeluargaan dan profesionalisme

Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan atau menyalahkan tentang sebuah kultur atau budaya…just another point of view 🙂

ada hal unik yg saya temui di beberapa tempat, yaitu cium tangan dari junior ke senior di sebuah prusahaan patungan swasta pemerintah dan di salah satu prusahaan BUMN

Pemandangan cium tangan ternyata tidak hanya terjadi didalam kantor, tetapi juga diwilayah2 publik menjadi pemandangan yg jamak dilihat

Kemudian muncul pertanyaan, is that we called profesionalism? tradisi cium tangan yg sebagian besar katanya berasal dr kebudayaan timur (entah timur yg mana,karna saya tidak pernah melihat orang jepang cium tangan :p hehe), merupakan bentuk penghargaan tinggi,biasanya kita melihat dari anak ke orang tua,dari murid ke guru, dari pengikut ajaran tertentu kepada sang guru atau syeikh yg sangat sangat dihormati

Apakah ini salah? Sekali lagi,saya tidak dalam posisi ingin menyalahkan

Kemudian bagaimana kalau ini terjadi diwilayah kerja?

Dr pendekatan kultural di wilayah kerja, tradisi cium tangan cukup membahayakan, sperti yg sudah saya singgung sedikit diatas,cium tangan biasanya diperuntukkan kpd seseorang yg sangat dihormati, hingga tanpa disadari muncul sifat superiorsm dan antikritik, secara psikologis akan memberikan barrier yg besar antara kedua orang yang terlibat didalamnya, coba perhatikan,apa ada murid yg mengkritisi kyai yang setiap pagi dicium tangannya? Artinya bagi yg merasa lebih junior,muncul rasa sungkan (jika tidak ingin disebut takut) untuk mengkritisi senior yg dicium tangannya. Padahal untuk iklim profesional kita dituntut utk saling mengkritisi utk kebaikan dan kemajuan perusahaan,tentunya bukan personal attack.

Alasan kekeluargaan dan penghormatan dgn cium tangan sebenarnya bisa terbantahkan, diluar wilayah kerja, sedang berpakaian bebas (jika menggunakan sera gam kantor), dirumah dsb sah sah saja cium tangan, karna menempatkan diri sebagai anak atau yg lebih muda, tp sekali lagi, diwilayah kerja, tradisi cium tangan bukanlah hal bijak menunjukkan profesionalisme kerja.

IMHO

What do you think?